Bagaimana Perumusan Visi dan Misi yang Efektif?

Bagaimana Perumusan Visi dan Misi yang Efektif?

(agar tak menjadi hiasan dinding semata)

Oleh

Diah Pipit Lestari (04116)

Hampir sebagian bahkan semua organisasi apabila ditanya tentang ”Apakah organisasi saudara mempunyai visi dan misi?” maka semuanya akan menjawab punya, tapi hampir sebagian besar dilematika dalam organisasi adalah bagaimana peran dari visi dan misi yang mereka susun tersebut. Apakah visi dan misi tersebut dipakai sebagai kekuatan dalam mencapai tujuan organisasi ataukah hanya berakhir sebagai hiasan dinding yang dipajang di kantor?

Visi dan misi merupakan elemen yang dalam organisasi, seperti yang saya kutip dari http://www.btn.co.id yang menyatakan visi dan misi digunakan agar dalam operasionalnya bergerak pada track yang diamanatkan oleh para stakeholder dan berharap mencapai kondisi yang diinginkan dimasa yang akan datang (junaedy; 2006).

Pada saat perumusan visi misi biasanya merupakan proses yang melelahkan bahkan sering menjadi perdebatan sendiri antar anggota organisasi. Tetapi pada saat visi dan misi sudah terbentuk, pelaksanaannya menjadi tidak sesuai. Jadi sungguh disayangkan sekali jika proses perumusan visi misi yang melelahkan pada akhirnya hanya menjadi hiasan dinding semata. Dalam sebuah blognya (Heru; 2006) mengungkapkan ”Sering kali pernyataan visi misi organisasi kurang tepat menggambarkan tujuan organisasi sehingga sering di jumpai adanya kesulitan pada saat melakukan deploy visi misi menjadi set of action yang akan digunakan untuk mengukur kinerja organisasi dengan menggunakan metode balance scorecard”. Pertanyaannya adalah kenapa hal ini bisa terjadi? Tentunya ada yang salah dengan visi misi tersebut sehingga hanya dijadikan hiasan dinding semata. Dari beberapa artikel yang saya baca, agar visi dan misi tidak hanya berakhir di dinding kantor saja maka terdapat beberapa panduan agar visi misi dapat menjadi kekuatan dalam mencapai tujuan organisasi.

Jansen Sinamo (2005) yang memberikan 12 kriteria mengenai kriteria visi dan misi yang hidup dan efektif, yang terpenting yang bisa saya ambil yaitu:

1. Visi-misi harus sesuai dengan roh zaman dan semangat perjuangan organisasi

2. Visi-misi harus mampu menggambarkan sosok organisasi idaman yang mampu memikat hati orang

3. Visi-misi harus mampu menjelaskan arah dan tujuan organisasi

4. Visi-misi harus mudah dipahami karena diungkapkan dengan elegan sehingga mampu menjadipanduan taktis dan strategis

5. Visi-misi harus memiliki daya persuasi yang mampu mengungkapkan harapan, aspirasi, sentimen, penderitaan para stakeholder organisasi

6. Visi-misi harus mampu mengungkapkan keunikan organisasi dan menyarikan kompetensi khas organisasi tersebut yang menjelaskan jati dirinya dan apa yang mampu dilakukannya

7. Visi-misi harus ambisius, artinya ia harus mampu mengkiristalkan keindahan, ideal kemajuan, dan sosok organisasi dambaan masa depan, sehingga mampu meminta pengorbanan dan investasi emosional dari segenap stakeholder organisasi.

Dalam hal perumusannya, terdapat perbedaan pendapat mengenai mana yang harus ditetapkan terlebih dahulu; visi atau misi? di kalangan pakar dan praktisi manajemen strategik terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah misi dulu yang dietapkan baru misi atau sebaliknya.

o Fred R. David (2003) berpendapat visi dirumuskan lebih dulu baru misi

o Gerry Johnson dan Kevan Scholes (1996) serta Robert S. Kaplan dan David P. Norton (2003) berpendapat misi yang dirumuskan terlebih dulu

o Peter F Drucker berpendapat “hanya Terlepas dari apakah misi atau visi yang ditetapkan terlebih dahulu, pernyataan misi hendaknya dapat dengan jelas menunjukkan alasan keberadaan dan “bisnis” atau kegiatan pokok organisasi yang bersangkutan yang berkenaan dengan nilai dan harapan para stakeholder

o Dari artikel yang saya kutip dari http://kampanye.febdian.net, penulis berpendapat bahwa alam sebuah pergerakan (baik organisasi maupun pribadi), kita harus menemukan dulu misi pergerakan itu, baru kemudian tetapkan visinya. Menerapkan visi tanpa mendefenisikan misi terlebih dulu adalah seperti “mau ke Bandung”, tap kagak tau kenapa harus ke Bandung atau mau ngapain di sana (Rusydi; 2004).

Menurut saya sendiri, perbedaan ini sebenarnya tidak perlu terlalu diperdebatkan karena pada dasarnya antara misi dan visi terdapat interaksi dan saling pengaruh antar keduanya.

Daftar Pustaka:

Junaedi, edy. 2006. Visi yang Bervisi. http://www.btn.co.id

Sinamo, Jansen. 2005 .Visi dan Misi; Kekuatan atau Hiasan. http://www.pembelajar.com

Rusydi, febdian. 2004. Kenapa Misi – Visi?. http://kampanye.febdian.net/misi-visi.htm

Hru. 2006. Mereview Kembali Visi Misi Organisasi. http://heru.wordpress.com/2006/07/26/mereview-kembali-visi-misi-organisasi/

 

pipit:menulis ternyata cukup sulit tp klo kepaksa ya akhirnya jadi juga, kayak ini; ceritanya sie ini tugas ujian mid mata kuliah manajemen stratejik, dosennya nyuruh buat artikel baru yang isinya kutipan-kutipan dari artikel-artikel yang sudah ada so kayak gini deh akhirny…(mungkin belum bisa disebut sebuah artikel)

About these ads

5 Responses so far »

  1. 1

    andiral said,

    Ada prinsip mendasar dalam penyusunan visi dan misi organisasi yang akan menentukan apakah Visi dan Misi tsb akan “hidup” atau hanya menjadi hiasan saja atau WOW (Word of the wall) yaitu “No Involvement, No Commitment” atau “High Involvement, High Commitment”.
    Kebanyakan organisasi menyusun visi dan misi dengan membentuk tim perumus yang handal bahkan dibantu konsultan tanpa melibatkan seluruh anggota organisasi dalam proses perumusannya. Alhasil, mereka berhasil menyusun sebuah Visi dan Misi yang indah namun tidak “dimiliki” oleh segenap anggota organisasi yang akan meng”hidupinya”.
    Bagaimana mereka akan komit terhadap visi dan misi tsb, sedangkan mereka tidak terlibat sama sekali dalam proses penyusunannya. Berbeda dengan penyusunan strategi, visi dan misi dan juga nilai-nilai organisasi bersifat lebih emosional bukan logika. Emosi yang dalam hanya dapat tumbuh bila mereka yang akan mengadopsinya merasa bahwa visi dan misi tsb adalah bagian dari dirinya bahkan menjadi identitas dirinya.
    Salah satu contoh visi dan misi yang hidup adalah Ritz Carlton Hotel. Kalau anda datang ke manapun outlet Ritz Calrton, maka anda akan menemukan sebuah budaya yang kuat yang dijiwai oleh misi dan credo yang hidup dihati setiap karyawannya. Bagaimana mereka mampu menumbuhkan hal tsb ? Dengan melibatkan seluruh karyawan dalam proses penyusunan dan penterjemahan (cascading) misi dan visi perusahaan menjadi visi dan misi unit. Bahkan seorang karyawan baru, sebelum masuk kerja sudah menjalani suatu proses training yang mengajak calon karyawan tsb untuk “menterjemahkan” misi dan visi organisasi menjadi perilaku sehari-hari

  2. 2

    kita said,

    makasih ya aq lagi cari artikelnya thanks alot

  3. 3

    thanks a lot….!

  4. 4

    Coki andria dan adiv aqil said,

    Ai po lah ne

  5. 5

    Coki andria dan adiv aqil said,

    Skrg gue smstr 4 mw m5uk smster 5.


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: